Powered By Blogger

Senin, 15 April 2013

10 Great Tips on How We Control Our "BAD MOOD" \(*,*)/



Saat pikiran mulai jenuh, atau mungkin saat suasana hati tidak menyenangkan, biasanya kebanyakan orang sering mengalamai perasaan yang tidak menyenangkan atau sebut saja Bad Mood. Beberapa tanda yang mungkin sering muncul adalah gelisah, malas, tiba - tiba menjadi pemarah, tidur tidak nyenyak, bahkan untuk sekedar keluar rumah terasa berat tanpa alasan tertentu. Kebanyakan orang yang mengalami Bad Mood sering mengeluhkan dirinya sendiri lantaran banyaknya masalah sehari - hari. Kabar baiknya, mood buruk tersebut bisa distabilkan tergantung dari usaha Anda melalui 10 tips dari Ilmu Psikologi yang pernah saya pelajari. Siapa yang ingin hari - harinya sering diselimuti perasaan yang tak menyenangkan, pikiran yang semrawut atau bahkan kemalasan yang tidak karuan? Selain itu, siapayang bisa membantah bahwa hari ini tidak bisa datang sebagai yang terbaik dalam hidup Anda? Tips berikut akan memberikan kemudahan untuk Anda dalam menstabilkan Bad Mood dan mengganti hari - hari suram Anda menjadi hari yang cerah berbinar - binar :D

1. Masa depan Anda tidak didasarkan pada masa lalu Anda
Jangan percaya pada prasangka. Hanya dengan tangan Andalah keberuntungan Anda bisa dirubah, karena tidak ada yang bisa menilai masa depan berdasarkan masa lalu. Singkirkan pikiran negatif dan lakukan pendekatan dengan perspektif positif. Anda dapat membimbing keberuntungan Anda, cukup mengambil kendali dari hidup Anda dan menemukan keberanian untuk melakukan hal-hal yang Anda selalu Anda inginkan.

2. Mencoba hal baru
Pengalaman baru siang hari dapat melakukan keajaiban. Bahkan penemuan perasaan yang baru dan pengertian yang berbeda dapat membebaskan Anda dari suasana hati yang buruk. Berbicara dengan orang-orang baru, membaca novel yang Anda belum pernah baca sebelumnya atau mendengarkan musik yang membuat Anda bahagia. Anda juga dapat mencoba meditasi selama 10 sampai 20 menit sehari, untuk mengisi pikiran Anda dengan perdamaian dan harapan.

3. Nikmati matahari dan udara segar
Ambil istirahat dari pekerjaan dan berdiri di samping jendela cerah. Nikmati sinar matahari dan minum secangkir kopi untuk memperkuat tubuh Anda dan mengisi daya. Sementara itu, matahari akan meningkatkan tingkat vitamin D dalam tubuh, yang meningkatkan suasana hati yang baik bagi Anda. Jika Anda memiliki waktu berjalan-jalan, Anda akan terkejut melihat betapa leganya perasaan Anda.

4. Pikirkan aspek positif dari kehidupan Anda
Ingat beberapa prestasi yang Anda capai dalam lima tahun terakhir. Mungkin Anda menikah, memiliki anak atau mendapat promosi di tempat kerja. Mengakui kemajuan Anda secara otomatis akan memberikan rasa kepuasan dan dapat membantu Anda mengalami masalah dengan iman dan kekuatan kehendak.

5. Hindari orang yang lagi "depresi"
Ingat optimisme yang menular, seperti penderitaan! Bila Anda bergaul dengan orang-orang yang dapat mengisi Anda dengan harapan, Anda dapat dengan mudah mengatasi insiden yang tidak menyenangkan di hari itu. Di sisi lain, jika orang-orang di sekitar Anda yang pesimis dan dalam keadaan depresi terus menerus, itu lebih mungkin yang akan membuat Anda merasa lebih buruk dan menghancurkan harapan Anda untuk mengubah suasana hati Anda.
Bad mood for a bad day

6. Tempelkan foto keluarga dan teman-teman di pintu lemari es
Rata-rata Anda mengunjungi lemari es sekitar 10 kali sehari. Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa orang yang paling bahagia telah menempatkan foto pertemuan keluarga atau berbagai kumpul-kumpul dengan teman-teman yang mengarah ke kenangan indah pada pintu kulkas. Anda hanya harus mencobanya.

7. Pikirkan sebuah cerita konyol
Pertimbangkan satu orang menjengkelkan dan membuat karakter konyol di kepala Anda. Bayangkan Anda berada di sebuah cerita, komik keterlaluan, dan kemudian datang kehancuran! Segera, Anda akan melihat bahwa itu telah membentuk senyum di bibir Anda. Pada akhirnya bayangkan diri Anda sebagai protagonis dan "pelukan" yang menyebabkan optimisme dalam cerita.


8. Membuat catatan
Biasakan tangan Anda selalu berinteraksi dengan buku harian dan menggambarkan setiap kegiatan yang positif hari. Mungkin Anda memiliki beberapa momen bagus saat akhir pekan atau menghadiri acara yang bagus. Anda akan segera menyadari bahwa ketika Anda terbiasa dengan proses ini, Anda akan ingin menulis di kalender Anda saat-saat bahagia Anda dan ini akan membuat Anda merasa baik.

9. Ubah pengalaman negatif menjadi peluang
Buatlah daftar lima sampai sepuluh hal yang (atau bisa) salah hari ini dan membacanya keras-keras. Umumnya, ketika Anda mendengarkan masalah yang menyangkut Anda ... Anda dapat memperlakukan mereka lebih tenang dan melihat seberapa kecil mereka dalam realitas. Jangan melihat segala sesuatu sebagai hitam atau putih karena ada daerah abu-abu!

10. Mengurangi stres melalui trik harian kecil
Setiap kali Anda mendapati diri berperilaku negatif, hentikan! Untuk mengurangi stres, mengakui kebiasaan yang memberikan Anda stres dan mencoba untuk mengurangi mereka di siang hari. Jadi, Anda akan bekerja secara efektif pada masalah ini dan akan mengelola untuk menghilangkan stres, melihat kehidupan dengan lebih optimis. (Lihat : Cara mengatasi stress)













Sebagai pemikiran akhir, mengatasi mood yang buruk tidak terlalu sulit asalkan Anda benar-benar ingin mengubah suasana hati Anda dan menikmati kesenangan kecil kehidupan sehari-hari.




Jumat, 12 April 2013

You’ve gone... far away..

What do you do when you realize that all you ever wanted was what you always had?
Somehow knowing what I’m missing makes it hurt so bad..
When I needed some time away, you moved on like you should..
I guess it took me too long to see that what we had was good..
You tried to let me in again and trust me like before..
I really would give anything to re-open that door..
I told you a year ago I knew what I wanted- and what I wanted was you..
Too bad for me, today that is no less true..
I never imagined that one day we would really be apart..

Don't you think who really you are..
Just a common man who had touched this heart, loved me deeply..
I gave my pure love, my faithful..
Hoping you'll always be mine, by myside at our marriage..
You brought your ordinary love, but you flied it extraordinarily..
Everything's become crazy, a craziness and a happiness..
But, these have been different..
Everything's gone.. for far away..

I'd never think this fucking love story, this disappointment would be disappear throug your gone..
Flowing up with my pure love..
Which had been tainted by you..

God's showed my best..
God blessed me through my way..
I've removed my feeling now..
No more madness about you..

Go.. go away with another lady..
Betraying me..
Lying me..
Disappointing me..
Whatever you want, just go with all your hypocrite..

I can't..
I really can't hate you..
For any reasons bothered me..
just won't live with regrets..
I know..
Regrets would never ever ever bring its goodness..

You made a scretch on my paper..
I just remove it, and try to repalce it by drawing a colorful pictures..
which coloring my life indeed..

Considering it as the phase of my life..
I skip the phase by phase and soon become a pupae..
Steping a very long journey of the metamorphosis..
Where I don't know when it will be end..
I promise, I'll keep trying to make all these phases to be a very beautiful butterfly..
Flying through the flowers, leaves, clouds..
And touching the tallest sky..

~Thank you so much for being a part of my life, my hope and my dream :)




Let Me Love You All Around

Just stop me in no time
When you feel this is a sin,
Let such moment come
Let me love you in between
The night will be concluding
With the end of days,
Let this night pass
Let me love you, on the edge
It was hot when started loving
Coming down it went autumn,
Let this season be unchanged
Let me love you on the bottom 
Let not these tears incessantly flow
Let not loose your haughty fount 
Why do you feel scared loving 
Let me love you on the front
Leave this age burn in jealous 
Let this furore turn in sound 
Just relax the wrinkle on your forehead 
Let me love you all around

Kamis, 11 April 2013

SINOPSIS (coming soon... Just wait for my upcoming novel ^^)




Cinta yang menyisakan kekecewaan  setelah menapaki perjalanan semusim dengan seseorang yang mengajariku untuk terus struggle dalam menjalani hidup. Lelaki dua puluh lima karakter yang sangat mempesona hingga kasihnya mampu menyentuh hati ku, dalam.. sangat dalam. Namun, cinta semusim itu menorehkan sebuah kekecewaan yang masih bersemayam di hati. Perjalanan sekaligus pelajaran hidup yang memberiku tonggak sehingga aku mampu berdiri kokoh  dengan metamorfosa yang lebih indah. Aku terbang setelah menjadi kupu – kupu indah menyongsong matahariku. Impian – impianku, matahari - matahariku telah aku genggam dan berharap Tuhan tak akan membiarkannya terlepas lagi, from USA with love~
-Hanifa Maharani-

Remembering the stereotypes of the common childhood


Remembering the stereotypes of my teachers when I was in the kindergarten and elementary school is the cliche that is often done by teachers. That has has developed in the community we are the existence of a presumption that the stereotype is always considered correct, while the outside is considered stereotype is wrong, sick, crazy and so forth. Many people who disagree with the stereotypes, sacrificing himself by pretending to follow the stereotype that he is not considered deviant, weird or even crazy.
The example of stereotyping was done by a kindergarten teacher. The teacher always shouted to their students. "Come on kids.. let's draw a scene. Yes, just draw a beautiful scenary." Once, my kindergarten or elementary school teacher was telling us to start drawing a scene around fourtheen years ago. The mother was a teacher before starting to give examples of landscape drawing. There were two pieces of the mountain with a pointed triangular shape, then the middle there is the morning sun peeking out between the two mountains, topped clouds that hung in the sky, and there is also a flock of birds flying in the sky shaped like the number 3 which is sleeping through the sky. There was also a highway which may also be equipped with electric pole. Rice fields lined boxes on the curb with rice shaped like the letter V in rows, as well as a small house along with the trees adorn the landscape drawing graffiti. Not infrequently that there was a stream meandering river. We had to necessarily follow the pattern of landscape images made by the mother teacher. And magic scenery image patterns such as these durable and always maintained its preservation to the present.
Such stereotypes are always sights firmly imbedded in the memories of Indonesia's children when asked about drawing scenery. Landscape picture of two pieces of the mountain yes, no sun, roads, fields, houses, clouds, birds. Picture two mountains, yes that was what we called as view.
In the methodology of learning, teachers often use the lecture method to deliver the material because it appears the notion that teaching is always synonymous with the provision of lectures, so the methods of learning outside the lecture method is considered as something strange and difficult.
Actually it's not completely wrong stereotype because there are few subjects that will indeed be effective if delivered by lectures, such as the lessons of history, Civics and so forth, but assume that all normal subjects submitted to their students with the lecture method is the duping of students that its own. Today, a teacher must have the courage to leave the stereotypes and the courage to use modern methods to suit the needs of their students, so that educational goals can be achieved with the maximum.
Why is it so? Are they afraid to make such creativities to be more interesting, fun, out of the box and fresh?
It’s the homework for you who want to be more than a good teacher, but a creative teacher ^_^





Minggu, 10 Februari 2013

rats.style.backgroundColor="transparent";

Nostalgia masa SMP: (Ketika pertama kali jadi jurnalis cilik) :P




Class Meeting: Bantu Siswa Berperan Aktif, Kompetitif dan Kooperatif


Antusisme siswa saat tarik tambang
Perolehan hadiah untuk para pemenang lomba

Seperti tahun-tahun sebelumnya, akhir semester ganjil kali ini SMPN 1 Tegaldlimo kembali melaksanakan kegiatan class meeting. Seperti namanya “class meeting” yang berarti pertemuan kelas, kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan kompetisi antar kelas, baik kelas VII, VIII maupun IX agar akhir semester yang baru saja mereka tempuh memiliki kesan yang positif dan bermanfaat.
Kegiatan ini diisi dengan berbagai perlombaan sekolah, seperti tarik tambang, bakiak, balap karung dan sendok kelereng. Semua kegiatan tersebut dilaksanakan di lapangan bulutangkis satu minggu setelah ujian akhir semester. Setiap kelas diwajibkan untuk  berpartisipasi pada setiap cabang lomba tersebut, karena sebelumnya telah diberikan sanksi tegas bagi kelas yang tidak turut berpartisipasi. “Kegiatan semacam ini senjaga dilakukan tiap akhir semester selain untuk mengisi waktu sebelum liburan juga untuk mengembangkan bakat dan kemampuan siswa dalam kerja sama tim lomba,” ujar Sri Utami, guru olahraga saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Hasil dari kegiatan tersebut dirasa sangat memuaskan, terbukti dengan banyaknya kelas yang tampil sebagai pemenang. Lomba tarik tambang telah dimenangkan oleh kelas VIIIC untuk kelompok putra dan VIIID untuk putri. Kemudian lomba bakiak diraih oleh kelas IXF, lomba balap karung oleh kelas VIIIA   serta lomba sendok kelereng dimenangkan oleh kelas IXB, baik untuk kelompok putra maupun putri. Bentuk hadiah yang diperoleh setiap pemenang berupa paket Lembar Jawaban Kera Siswa yang bermanfaat bagi siswa nantinya sebagai media untuk menjawab tes-tes mata pelajaran di kelas. Selain itu, kegiatan tersebut juga dirasa telah membantu siswa berperan aktif, kompetitif serta kooperatif yang sesuai dengan tujuan sekolah saat ini. rinta/VIIIF

Sabtu, 10 Maret 2012

SEPIKUL KUE ONGOL - ONGOL DEMI PERJUANGAN HIDUP

LIPUTAN AKHIR PEKAN

SEPIKUL KUE ONGOL - ONGOL DEMI PERJUANGAN HIDUP






KERJA KERAS : Wajah Ibu Munayah saat melayani pembeli  kuenya



Di tengah gemerlap kota Malang, kita masih menjumpai sosok yang penuh dengan semangat dan kerja keras. Munayah, itulah nama seorang pedagang kue ongol-ongol yang selama lebih dari 20 tahun menggantungkan hidupnya dengan berjualan kue ongol-ongol. Berawal dari berjualan gorengan hingga kue, wanita berusia 60 tahun ini lebih memilih mencari sesuap nasi  di daerah alun-alun kota Malang sejak awal berdirinya alun-alun kota Malang hingga saat ini. Ia memulai untuk berjualan sekitar pukul 06.00 WIB, waktu di mana kebanyakan orang masih pulas dalam tidurnya. “Saya setiap hari berjualan dari jam enam pagi sampai jam
empat sore,” tutur wanita dengan tiga orang cucu ini sembari tersenyum.
Dari tangan dan tubuh tuanya itu, Bu Munayah selalu menjalani pekerjaannya dengan penuh lapang dada. Berawal dengan berjualan makanan gorengan seperti tahu, bakwan dan pisang goreng, pendapatan yang ia dapatkan tidak sebanding dengan modal yang ia keluarkan. “Saya berjualan gorengan dengan modal hingga tujuh puluh ribu rupiah untuk semua jenis gorengan, namun keuntungan yang saya dapatkan setiap hari tidak selalu mencapai modal awal, ditambah lagi jika suasana alun-alun sepi, uang yang saya dapatkan hanya cukup untuk membeli beras,” sahut wanita dengan panggilan Nayah ini. Hal tersebut salah satunya karena harga minyak di pasaran masih melambung tinggi hingga saat ini. “Mugo-mugo pemerintah iso ndelok wong cilik koyo ngene iki, jadi harga bahan jualan seperti minyak tidak selalu naik,” tambah wanita lebih dari paruh baya itu.
Ia menuturkan bahwa kondisi itu tidak boleh dibiarkan begitu saja mengingat pendapatan yang ia peroleh masih sangat minim. Akhirnya ia memutuskan untuk menjual kue ongol-ongol dengan harga Rp 3000 untuk semua jenis kue jualan, mulai dari ongol-ongol, cenil, lopes dan ketan dengan modal sekitar Rp 60.000. Dari penjualan tersebut ia mendapatkan keuntungan hingga Rp 30.000/hari. Hal itu ia lakukan untuk terus menyambung hidupnya di tengah kondisi perekonomian keluarganya yang masih memprihatinkan. Ia bersama suaminya yang merupakan seorang tukang becak serta tiga orang cucunya yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar selalu membagi waktunya antara berjualan kue dengan mengurus ketiga orang cucunya tersebut. Wanita asal Malang ini memutuskan untuk berjualan di area alun-alun karena selain merupakan pusat kota Malang yang tidak pernah sepi pengunjung, juga tidak jauh dari tempat tinggalnya. Hingga saat ini, Bu Munayah terus mengembangkan rasa dari kue-kuenya tersebut yang merupakan salah satu jajanan khas kota Malang agar pembeli tidak merasa kecewa, mengingat di zaman saat ini sudah tidak banyak lagi pembeli yang suka memakan kue jenis ongol-ongol.
Terlepas dari hari-hari biasa, Bu Munayah juga selalu berinisiatif untuk menjual  lontong sayur ketika musim puasa dan menjelang musim hari raya tiba karena makan tersebut dirasa banyak peminatnya dibandingkan dengan makanan lainnya. Dengan begitu rupiah demi rupiah pun ia dapatkan dengan lebih mudah. (ra/fib)

Kamis, 22 Desember 2011

Bahasa Osing, Aset Terbesar Banyuwangi


Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Jawa Timur. Karakter wilayah yang terletak di ujung paling timur pulau Jawa ini juga menarik untuk di ketahui selain wilayah tapal kuda dan wilayah arek yang dikenal dengan sebutan “Lare Osing.”
Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi dan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Suku Osing merupakan perpaduan budaya dan tradisi yang ada di Banyuwangi dan dikenal dengan istilah Negeri Belambangan.
            Ada tiga elemen masyarakat yang secara dominan membentuk stereotype karakter Banyuwangi yaitu Jawa Mataraman, Madura-Pandalungan (Tapal Kuda) dan Osing. Persebaran tiga entitas ini bisa ditelisik dengan karakter wilayah secara geografis yaitu Jawa Mataraman lebih banyak mendominasi daerah pegunungan yang banyak hutan seperti wilayah Tegaldlimo, Purwoharjo, Bangorejo dan Tegalsari. Sedangkan masyarakat Madura lebih dominan di daerah gersang seperti di kecamatan Wongsorejo, Muncar dan Glenmore. Sementara masyarakat Osing sendiri dominan di wilayah subur di sekitar Banyuwangi kota, Giri, Glagah, Kabat, Rogojampi, Songgon, Singojuruh, Cluring dan Genteng.
            Meski masyarakat yang ada di Banyuwangi ini terdiri dari berbagai elemen dari entitas yang berbeda, namun sangat adaptif, terbuka dan kreatif terhadap unsur kebudayaan lain hingga memungkinkan banyak sekali adanya akulturasi, salah satu hasil dari akulturasi budaya tersebut adalah bahasa Osing.
            Karakter egaliter menjadi ciri yang sangat dominan dalam masyarat Osing. Ini tampak dalam bahasa Osing yang tidak mengenal tingkatan bahasa seperti bahasa Jawa atau bahasa Madura. Struktur masyarakat Osing pun tidak berorientasi pada priayi seperti orang Jawa juga tidak pada kyai seperti orang Madura dan tidak juga pada Ksatria seperti kasta orang Bali ( Sumber: Heru SP Saputra, Shrintil, 2007 ).
 A.  Sejarah Bahasa dan Masyarakat Osing
Sejarah bahasa dan masyarakat Osing kabupaten Banyuwangi tidak bisa dipisahkan dari sejarah kerajaan majapahit. Masyarakat Osing hakikatnya adalah keturunan dari kerajaan Blambangan yang terletak di ujung timur pulau Jawa. Kata Osing sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno Sing atau Hing yang artinya “Tidak.” Sebutan ini menurut Dosen fakultas Sastra Universitas Jember Novi Anoegrajekti (dalam Majalah Tempo on-line, http://www.tempointeraktif.com, diunduh pada 17 Maret 2010 pukul 20:30), mengacu pada pengalaman traumatik masyarakat Blambangan akibat serangan kerajaan Majapahit yang terus-menerus. Pengalaman ini mengakibatkan sikap defensif masyarakat Osing terhadap orang Majapahit, sehingga kata Using yang berarti tidak itu tercetus. Ada sikap antipati dari orang Blambangan terhadap masyarakat Jawa Kulon yang berbahasa Jawa mataraman itu. Pernyataan ini diperkuat dengan penelitian Prof. Dr. Suparman Heru Santosa yang telah mengadakan uji linguistik terhadap bahasa Using. Dari penelitian Prof. Suparman, disimpulkan bahwa Bahasa Osing merupakan dialeg dari bahasa Jawa Kuno. Jadi sama dengan bahasa Jawa modern, Sunda, atau Bali. Namun masih kebanyakan dari ahli bahasa Jawa menyatakan bahwa bahasa Osing adalah salah satu dialeg dari bahasa Jawa.
Osing bukan istilah yang dipakai untuk menyebut penduduk keseluruhan Kabupaten Banyuwangi. Suku Osing terdapat hanya di bagian tengah dan bagian utara Kabupaten Banyuwangi, terutama di Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Rogojampi, Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Giri, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Songgon.
Secara linguistik, bahasa ini termasuk dalam rumpun bahasa Jawa daricabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia. Namun seiring dengan perkembangannya, bahasa Osing telah mengakar kuat menjadi dialeg khas Banyuwangi. (Sumber: Holmes, Janet.An Introduction to Socialinguistik (2001)).

B.     Sistem Pengucapan atau Fonologi
Bahasa Osing mempunyai keunikan dalam sistem pelafalannya, antara lain:
·   Adanya diftong [ai] untuk vokal [i] : semua leksikon berakhiran "i" pada bahasa Osing khususnya Banyuwangi selalu terlafal "ai". Seperti misalnya "geni" terbaca "genai", "bengi" terbaca "bengai", "gedigi" (begini) terbaca "gedigai".
·   Adanya diftong [au] untuk vokal [u]: leksikon berakhiran "u" hampir selalu terbaca "au". Seperti "gedigu" (begitu) terbaca "gedigau", "asu" terbaca "asau", "awu" terbaca "awau".
·   Lafal konsonan [k] untuk konsonan [q]. Di Bahasa Jawa, terutama pada leksikon berakhiran huruf "k" selalu dilafalkan dengan glottal "q". Sedangkan di Bahasa Osing, justru tetap terbaca "k" yang artinya konsonan hambat velar. antara lain "apik" terbaca "apiK", "manuk", terbaca "manuK" dan seterusnya.
·   Konsonan glotal [q] yang di Bahasa Jawa justru tidak ada seperti kata [piro'], [kiwo'] dan demikian seterusnya.
·   Palatalisasi [y]. Dalam Bahasa Osing, kerap muncul pada leksikon yang mengandung [ba], [pa], [da], [wa]. Seperti "bapak" dilafalkan "byapak", "uwak" dilafalkan "uwyak", "embah" dilafalkan "embyah", "Banyuwangi" dilafalkan "byanyuwangai", "dhawuk" dibaca "dyawuk".
Dari ciri vonologis di atas dapat terlihat perbedaan dengan pengucapan dalam Bahasa Jawa modern. Meski ada kesamaan secara kosakata, namun cara pengucapan yang berbeda terkadang membuat orang yang biasa berbahasa Jawa tak mengerti ketika mendengar ucapan dalam Bahasa Using (Priantono, 2005). Perbedaan inilah yang menjadi salah satu penciri Bahasa Using dari Bahasa Jawa. Meski sama-sama berasal dari akar Bahasa Jawa Kuno, ada perbedaan yang menghasilkan Bahasa Osing sebagai bahasa yang berdiri sendiri.
Ciri khas lain dari bahasa Osing adalah dalam gaya penggunaan. Tidak seperti Bahasa Jawa yang mengenal unggah-unggahan bahasa seperti Ngoko, Kromo, dan seterusnya, Dalam Bahasa Osing tidak ditemukan hal serupa. Yang ada hanya gaya bahasa berbeda untuk situasi yang berbeda, bukan karena status sosial. Selain itu, ada pula perbedaan penggunaan pronomina (kata sapaan) untuk orang dengan umur atau kedudukan yang berbeda, sekali lagi bukan karena status sosialnya.
Cara penggunaan pronomina yang berbeda itu dapat dilihat di bawah ini:
§  Siro wis madhyang? = kamu sudah makan?
§  Riko wis madhyang? = anda sudah makan?
  1. Hiro/Iro = digunakan/lawan bicara untuk yang lebih muda(umur)
  2. Siro = digunakan/lawan bicara untuk yang selevel(umur)
  3. Riko = digunakan/lawan bicara untuk yang diatas kita (umur)
  4. Ndiko = digunakan/lawan bicara untuk orang tua (bapak/ibu)
Sedangkan dalam fungsi penggunaan, dibedakan dua cara yakni cara Osing dan cara Besaki. Cara Osing digunakan untuk keperluan sehari-hari atau kebutuhan umum. Cara Besaki sendiri hanya dipergunakan saat okasi penting seperti ritual keagamaan dan upacara pernikahan.

C.  Varian Bahasa Osing

Bahasa Osing mempunyai banyak kesamaan dan memiliki kosakata Bahasa Jawa Kuno yang masih tertinggal. Namun di wilayah Banyuwangi sendiri terdapat variasi penggunaan dan kekunaan juga terlihat di situ. Varian yang dianggap Kunoan terdapat utamanya diwilayah Giri, Glagah dan Licin, dimana bahasa Osing di sana masih dianggap murni. Sedangkan Bahasa Osing di Kabupaten Jember telah banyak terpengaruh bahasa Jawa dan Madura. Serta pelafalan yang berbeda dengan Bahasa Osing di Banyuwangi.

D.Gaya Penggunaan Bahasa

Di kalangan masyarakat Osing, dikenal dua gaya bahasa yang satu sama lain ternyata tidak saling berhubungan. Yakni Cara Osing dan Cara Besiki. Cara Osing adalah gaya bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak mengenal bentuk Ngoko-Krama seperti layaknya Bahasa Jawa umumnya. Yang menjadi pembedanya adalah pronomina yang disesuaikan dengan kedudukan lawan bicara, misalnya :

 

§  Siro wis madhyang? = kamu sudah makan?
§  Riko wis madhyang? = anda sudah makan?

§  Hiro/Iro = digunakan/lawan bicara untuk yang lebih muda(umur)
§  Siro = digunakan/lawan bicara untuk yang selevel(umur)
§  Riko = digunakan/lawan bicara untuk yang di atas kita (umur)
§  Ndiko = digunakan/lawan bicara untuk orang tua (bapak/ibu)
Sedangkan Cara Besiki adalah bentuk "Jawa Halus" yang dianggap sebagai bentuk wicara ideal. Akan tetapi penggunaannya tidak seperti halnya masyarakat Jawa, Cara Besiki ini hanya dipergunakan untuk kondisi-kondisi khusus yang bersifat keagamaan dan ritual, selain halnya untuk acara pertemuan menjelang perkawinan.

E. Kosakata

Kosakata Bahasa Osing berakar langsung dari bahasa Jawa Kuna, di mana banyak kata-kata kuna masih ditemukan di sana, di samping itu, pengaruh Bahasa Bali juga sedikit signifikan terlihat dalam bahasa ini. Seperti kosakata sing (tidak) dan bojog (monyet).

Pengaruh Bahasa Inggris juga masuk kedalam bahasa ini melalui para tuan tanah yang pernah tinggal di kawasan tersebut, seperti dalam kata :

§  Sulung dari kata so long namun bermakna duluan
§  Nagud dari kata no good bermakna jelek
§  Ngepos dari kata pause bermakna berhenti
§  Enjong dari kata enjoy bermakna enak,menyenangkan
Perbedaan register atau unggah-unggahan ini akan amat jelas ketika dibandingkan dengan Bahasa Jawa. Menurut situs Wikipedia.org, terdapat tiga varian utama dalam register Bahasa Jawa, yakni Ngoko (kasar), Madya (biasa), dan Krama (halus). Perbedaan ini selain dilatarbelakangi oleh faktor usia, status sosial seseorang pun turut mempengaruhi penggunaan varian dalam Bahasa Jawa. Jika dalam Bahasa Osing digunakan hanya pronomina yang berbeda untuk menunjuk tingkat usia antara dua penutur, dalam Bahasa Jawa tidak hanya pronomina yang berubah, tapi tiap kata yang digunakan pun dapat berubah. Untuk lebih jelas melihat perubahan dalam varian Bahasa Jawa, dapat dilihat dari contoh berikut yang diambil dari situs wikipedia.org

Bahasa Indonesia: “Maaf, saya mau tanya rumah Kak Budi itu, di mana?”
1. Ngoko kasar: “Eh, aku arep takon, omahé Budi kuwi, nèng*ndi?’
2. Ngoko alus  : “Aku nyuwun pirsa, dalemé mas Budi kuwi, nèng endi?”
3. Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu, omahé mas Budi kuwi, nèng ndi?”
4. Madya         : “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, griyané mas Budi niku, teng pundi?”
5. Madya alus  : “Nuwun sèwu, kula ajeng tanglet, dalemé mas Budi niku, teng pundi?”
6. Krama andhap: “Nuwun sèwu, dalem badhé nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
7. Krama      : “Nuwun sewu, kula badhé takèn, griyanipun mas Budi punika, wonten pundi?”
8. Krama inggil: “Nuwun sewu, kula badhe nyuwun pirsa, dalemipun mas Budi punika, wonten pundi?”
Dari sini terlihat jelas perbedaan register antara Bahasa Jawa dan Osing. Jika Bahasa Jawa mendasarkan pada status sosial, sedangkan Bahasa Osing didasari pada fungsi okasional. (Sumber: http://id.wikipedia.org, http://bambangpriantono.multiply.com/
               http://abdulbasyir.wordpress.com/, http://www.tempointeraktif.com/


Dalam tiap bahasa, dapat kita temukan perubahan-perubahan yang terjadi disebabkan oleh faktor historis, geografis, atau sosial. Perubahan ini dilakukan bukan tanpa tujuan dari penggunanya. Pembentukan identitas menjadi salah satu tujuan utama di atas kebutuhan dasar kelompok manusia. Masyarakat Osing dalam kasus ini, berusaha membentuk Bahasa Osing yang berbeda dengan Bahasa Jawa untuk mengidentifikasikan diri mereka juga sebagai aset besar Banyuwangi. Meski sama-sama berasal dari akar Bahasa Jawa Kuno, ada perbedaan yang menyebabkan antara Bahasa Jawa, Bahasa Osing, dan Bahasa Bali berdiri sendiri. Oleh karena itu, Bahasa Osing ini dapat kita simpulkan sebagai sebuah bahasa, buka ragam atau varian dari Bahasa Jawa.
(Sumber: http://id.wikipedia.org, http://bambangpriantono.multiply.com/
               http://abdulbasyir.wordpress.com/http://www.tempointeraktif.com/



ADDITIONAL:
Talking about the Dialect of Osing, may be I am the one who love learning language so much. For me, language is amazing and have its uniqueness which differentiates from one to another. And I felt so lucky because was born in Banyuwangi. A legendary rich of culture and beautiful beaches, call it with PLENGKUNG beach and G-LAND which has a very very excotic and beatiful waves in the second highest after Hawaii. And Banyuiwangi, the SUNRISE OF JAVA 
One thing which makes me feel lucky is I know the native language in Banyuwangi which called Osing. Actually my native is Javanese because both my father and mother are originally from Banyuwangi, espceially in the southest of Banyuwangi.  I think the language is very unique because in terms of pronounciation, very different from Java language on a daily basis I used. They have a tone or kind of a particular song in pronounciation or their language and a little bit of scrannel. That's why it's very difficult to imitate thie accent, despite I'm from Banyuwangi actually.
I can understand pretty much when they speak, but I can’t use the language. Even if I decided to do it, my accent is still Javanese. Hummm…. I started to know Osing when I was in the primary school where it is located not in the area whose people did't use Osing as their native language. But, it was so much fun. Their pronounce is interesting with a certain tone. I miss it so much. I have downloaded some Kendang Kempul ( Kind of Song which use Osing) just to be able to hear this language. But, I can’t make the conversation with them.
But, I'm going to learn more over about Osing to conserve my originally language from Banyuwangi. :)
Dan sepertinya bakal ribet and susah banget, kawan,, hahaha :D